Adham Somantrie

Adham Somantrie

Tangkuban Parahu Trail Run

Posted on 2012-01-14 09:34:15. 465 views.

Melanjutkan kenekatan saya, pada Minggu (08/01), sehari setelah melaksanakan Mega Kuningan Half Marathon, saya bersama rekan-rekan Indo Runners melakukan trail run di Tangkuban Parahu, Jawa Barat.

Berangkat saat subuh bersama-sama dengan segerombolan pelari IndoRunners cabang Jakarta lainnya, lalu berkumpul dengan pelari IndoRunners cabang Bandung sekitar jam 08.00 di Pasteur Hyper Point, Bandung. Selain pelari dari Bandung, Bogor, Jakarta, dan sekitarnya, ternyata ada juga partisipan mancanegara: Lui Dwen-Tjin dan Leong Li-Shan, mahasiswi asal Malaysia yang sedang menimba sumur ilmu di Unpad.

Setelah acara sambut-sambutan dan silaturahmi, seluruh partisipan bersiap-siap. Saya dan beberapa pelari lainnya menyempatkan diri untuk sarapan. Walaupun saya hanya menemui lontong (polos, benar-benar hanya beras dibungkus daun) dan gorengan khas Indonesia. Tentunya tak lupa berfoto.

Sesampainya di Tangkuban Parahu, partisipan sedikit terkejut dengan cuaca yang sangat tidak bersahabat. Saya dan beberapa rekan bahkan sempat tidak berani keluar dari mobil karena hujan, udara dingin, dan angin yang kencang sekali. Badai. Mengerikan!

Tapi untuk apa saya bangun pagi-pagi dan berangkat jauh-jauh dari Jakarta? Setelah membeli jas hujan warna pink, kami berlima pun sepakat untuk keluar mobil dan menghadapi cuaca.

Memang kekuatan pikiran itu  lagi-lagi memegang peranan penting. Dengan niat yang kuat, alhasil cuaca buruk pun tidak menjadi masalah yang besar dalam lari kami.

Kilometer pertama tidak menjadi masalah yang besar. Sudut tidak terlalu curam, hanya tanjakan landai dengan medan yang berbatu. Apalagi hujan sudah mulai reda, sehingga kami bisa melepas jas hujan dan bergerak lebih leluasa tanpanya.

Namun, semua berubah setelah memasuki kilometer kedua. Bebatuan indah dengan jalanan landai sirna. Tergantikan dengan bukit berbatu nan terjal. Sangat terjal. Belum lagi terpaan angin kencang yang selain meniupkan suhu rendah, juga menggoyahkan pijakan kaki para partisipan.

Setelah tanjakan berbatu, trek kembali menurun. Kali ini cukup terbantu dengan banyaknya tumbuhan yang melindungi para pelari dari terpaan angin. Walaupun karena hujan sebelumnya, tentu saja trek menjadi berlumpur, dan pastinya licin. Jika sebelumnya di medan berbatu saya masih bisa leluasa bergerak dengan sepatu Adidas ClimaCool Ride yang ringan dan fleksibel, namun untuk trek licin sepatu ini tidak banyak membantu. Terlebih di turunan. Tak sedikit korban yang terpeleset dan terjatuh, tapi untungnya tidak ada yang terluka parah, hanya lecet-lecet saja.

Setelah menyusuri turunan yang menantang itu, tibalah para peserta di titik henti berikutnya: di bibir kawah! Silakah menikmati video berikut.

Trek pun selesai di titik awal: parkiran mobil. Total jarak sekitar 4 hingga 5 kilometer yang ditempuh secara berjamaah selama 1 jam 20 menit.

Tak cukup sampai di situ. Beberapa partisipan merasa "kurang", apalagi pelari jalan raya. Begitu melihat aspal, mereka secara impulsif memutuskan untuk turun dari parkiran kawah ke gerbang depan dengan berlari. Tidak mau menumpang mobil.

Ya, ya, ya. Saya hanya berlari seperempat jalan, sisanya menumpang mobil. Hahaha. Tentunya setelah menghajar half-marathon dan bongkahan batu Tangkuban Parahu, kekuatan kaki sudah mulai ringkih. Selain itu, sudut jalanan cukup curam, membuat saya sulit untuk menjaga kecepatan berlari. Tentunya ini bisa berdampak buruk terhadap kaki kalau tidak kuat. Jadi, belum tentu jalanan menurun itu menarik bagi pelari.

Hal yang perlu diperhatikan untuk lari trail ini adalah outfit. Penggunaan sepatu tentunya sangat disarankan yang memang jenis trail agar sesuai dengan karakter trek. Saya menggunakan sepatu "jalan raya" yang memang cenderung rata, sehingga tidak banyak membantu di medan licin. Namun, kalau hanya bebatuan dengan medan yang landai, tak ada masalah selama tidak turun hujan. Juga pilih sepatu yang cukup tahan air, karena tidak nyaman berlari dengan sepatu dan kaos kaki basah.

Jaket juga perlu dipertimbangkan. Untuk suhu rendah mungkin ketahanan orang bisa berbeda. Saya masih bisa merasa cukup nyaman hanya dengan menggunakan kaos IndoRunners dan celana pendek. Namun jika turun hujan, tetap perlu jaket yang tahan air. Atau, ya pakai jas hujan.

Namun leher dan kepala saya yang tidak kuat terhadap suhu dingin tersebut. Hal ini bisa menyebabkan pusing serta membuat otot leher menjadi kaku. Jadi saya perlu mempertimbangkan tutup kepala untuk trail berikutnya.

Nutrisi dan logistik juga perlu. Carbo loading dan sarapan sebelum berlari. Karena udara dingin, kadang kita juga perlu kalori tambahan. Energy bar atau pisang juga boleh untuk cemilan di tengah perjalanan. Air minum untuk menghindari dehidrasi. Memang terkesan rutenya pendek, hanya 5K. Namun waktu tempuh yang hampir satu setengah jam juga perlu diperhatikan.

Dan yang pasti, pemanasan (warm-up) dan peregangan (stretching) menjadi sangat perlu untuk suhu dingin dan trek ekstrim ini. Jadi, tidak boleh bandel dan malas untuk pemanasan.

Setelah berhasil menyelesaikan tantangan, kontingen IndoRunners melanjutkan dengan makan siang berjamaah di daerah Punclut.

Terima kasih untuk teman-teman IndoRunners cabang Bandung yang telah mengorganisir acara ini dan mengundang kami. Dan tentunya kami dari IndoRunners cabang Jakarta akan menyambut dengan tangan terbuka jika ada pelari dari luar kota yang ingin bergabung dengan lari jalan raya bergaya urban khas Ibukota.

— Adham Somantrie.

Catatan: Foto-foto diambil oleh Aki Niaki, Bu Yustrida, dan Om Wailan. Video diambil oleh Bu Yustrida.

Tagged in: trail lari run

Mega Kuningan Half Marathon

Posted on 2012-01-11 05:43:24. 746 views.

Sabtu (07/01) kemarin, dengan setengah nekad dan setengah tekad saya melakukan lari setengah marathon (half marathon) untuk pertama kalinya. Memang bukan lomba resmi, hanya berlari seorang diri. Mirip Xperiathon, tapi tidak ada kompetisi. Memang untuk tahun 2012 ini, target saya adalah menamatkan lomba lari half-marathon.

Untuk rutenya, saya memilih Kawasan Mega Kuningan karena faktor lokasi yang dekat dengan tempat tinggal saya. Selain itu, juga karena lingkungannya yang cukup kondusif serta cukup sepi dari lalu lintas saat akhir pekan. Video berlari saya di Mega Kuningan pada Februari 2011 ada di sini.

Musim hujan tentunya menjadi momok tersendiri bagi para pelari luar ruangan. Namun cuaca mendung dan hujan gerimis merupakan suatu berkah untuk saya pribadi karena saya tidak akan kepanasan. Bahkan, tetap teduh jika sudah melewati pukul 08.00 pagi.

Jarak terjauh yang pernah saya tempuh adalah saat lomba Adidas KOTR, yakni 16.8 km. Maka saya perlu tambahan sekitar 4 km. Walaupun sepatu Adidas ClimaCool Ride berhasil mengantar saya ke garis finish saat lomba SCSM kategori 10K pada Desember kemarin, namun saya belum yakin kenyamanannya untuk jarak 21K. Untuk itu, saya terpaksa membongkar kardus dan "menghidupkan kembali" Nike Air Turbulence+ yang sudah sobek bagian dalamnya itu. Dengan bantuan selembar plester penutup luka, diharapkan sepatu ini bisa digunakan tanpa gangguan dari plastik cangkang yang sebelumnya selalu menusuk kaki.

Nike Air Turbulence

Hujan memang turun pada malam sebelumnya. Bahkan hingga subuh. Namun sekitar pukul 06.00 WIB saya sudah bisa memulai lari setelah melakukan pemanasan sebelumnya. Untuk mengukur jarak, saya mengandalkan Nike+ Sportband yang sudah dikalibrasi. Tingkat keakuratannya mencapai 97.5%.

21 km tentunya bukan jarak yang dekat untuk pelari amatir, apalagi saya belum pernah mencapai jarak tersebut. Namun, kekuatan fisik hanyalah 10%, 90% sisanya adalah kekuatan pikiran. Saya menggunakan target bertahap: 5K, 10K, 16.8K, dan 21K. Saat start, kejar angka 5K di dalam benak. Setelah 5K tercapai, lalu pusatkan pikiran untuk 10K. Dan seterusnya. Metode ini berhasil untuk saya pribadi untuk menghilangkan persepsi bahwa 21K itu jauh.

Mega Kuningan bukanlah area yang luas. Sekali mengelilinginya hanyalah sekitar 2 hingga 4 km, tergantung variasi rute. Untuk jarak 21K, tentunya saya perlu berlari dengan banyak putaran berulang (looping). Dengan kondisi gerimis halus, tidak banyak yang berlari pada pagi itu. Mungkin saya terlihat seperti orang gila yang terus-menerus berlari mengelilingi Mega Kuningan tanpa henti. Tapi ingatlah, 90% kesuksesan berlari adalah kekuatan pikiran. Jadi konsentrasilah hanya pada lari.

Untuk kebutuhan hidrasi, karena ini bukan lomba resmi, maka tidak ada water station. Sehingga saya harus mampir di warung yang ada di pinggiran Mega Kuningan untuk membeli air minum dalam kemasan botol sehingga bisa saya bawa saat berlari. Ketika air minum habis, maka saya kembali mampir untuk membeli kembali.

Di kantong celana, saya membawa camilan energi (energy bar) untuk asupan nutrisi. Setelah memasuki KM 10, maka saya mengkonsumsi energy bar dan minum sambil berjalan kaki. Karena saya termasuk orang yang makannya lambat, maka "pengisian" ini saya lakukan sekitar 700 m.

Menjelang KM 11, sekitar pukul 07.30 hujan mulai turun dengan deras. Saya terpaksa berteduh di pos parkir gedung terdekat. Sekitar pukul 08.15 hujan sudah mulai reda, dan saya melanjutkan lari.

Di KM 16.8 hingga KM 17.8 saya kembali melakukan "pengisian" sambil berjalan kaki. Setelah itu, tentunya sisa perjalanan sudah tinggal sedikit, kurang dari 3.5 km. Namun realisasinya tidak segampang itu. Walaupun sudah beristirahat dan mengisi tenaga, badan sudah mulai merasa jenuh, kaki pun sudah mulai terasa pegal. Yak, di sini lah kekuatan pikiran itu menjadi penting. Sebelumnya saya sempat hit the wall mau berhenti di KM 15. Namun sebagai penamat KOTR 16.8K tentunya saya tidak boleh menyerah di KM 15.

Hingga akhirnya saya berhasil mencatatkan jarak 21.21 km di Sportband dengan waktu bersih 2:48:03. m/

Pesan moralnya adalah, untuk lari jarak jauh fisik saja tidak cukup, mental juga harus dilatih. Sebelum ini, saya tidak pernah berlari lebih dari 10K pasca Adidas KOTR pada akhir September 2011. Sebelumnya juga saya tidak ada persiapan untuk half-marathon. Inilah alasan mengapa di awal tulisan saya bilang setengah nekad.

Tetapi, walaupun tanpa persiapan yang baik, saya tetap melakukan perhitungan yang baik. Untuk jarak, sebagai penamat Adidas KOTR 16,8K tentunya menambah 4 km masih masuk akal. Untuk fisik, selain istirahat yang cukup, tentunya perlu asupan energi yang cukup. Pengisian tenaga (carbo loading) harus dilakukan sebelum berlari. Dan alat bantu pemantau detak jantung (heart rate monitor) saya anggap penting untuk mengawasi kondisi jantung, agar tidak terlalu dipaksa (over-trained).

Manajemen waktu dan tenaga sangat penting. Saya mengambil KM 10 dan KM 16.8 untuk mengkonsumsi energy bar. Jangan lupa minum air untuk mencegah dehidrasi. Namun jangan terlalu banyak minum air, agar tidak terguncang di dalam perut. Kondisi perut tentunya jangan kosong, namun juga jangan penuh. Tahan kecepatan, terutama di 10KM pertama. Saya menurunkan kecepatan 10-20% guna menghemat energi untuk di paruh kedua.

21K memang bukan jarak yang dekat, waktu tempuh juga tidak sebentar. Para pemula biasanya membutuhkan waktu lebih dari 2 jam, bahkan lebih dari 3 jam. Agar tidak bosan selama berlari, penggunaan iPod sebagai hiburan cukup disarankan.

Pencapaian ini penting secara pribadi sebagai pembuktian (proof of concept) bahwa menamatkan half-marathon itu bukanlah suatu yang mustahil bagi saya sekarang. Ini dapat menjadi motivasi untuk half-marathon berikutnya, termasuk saat berlomba. Jadi saya akan terdorong untuk menyelesaikan 21K jika kembali menyerah di tengah lomba. Juga menjadi perbandingan (benchmark) catatan waktu untuk latihan maupun lomba 21K berikutnya.

Terakhir, karena ini half-marathon perdana bagi saya, maka catatan waktu tidak begitu penting. Yang penting adalah menyelesaikan lari. Untuk catatan waktu, bisa dipertajam di kemudian hari.

Jadi, untuk teman-teman pelari yang saat ini sedang berlatih untuk half-marathon, semoga pengalaman lari half-marathon perdana saya ini dapat memberi semangat. Mari lari!

— Adham Somantrie.

Tagged in: lari run

Inovasi Membuat Dunia Menjadi Lebih Baik

Posted on 2012-01-09 15:30:23. 411 views.

Kalau dipikir-pikir, hidup di zaman kita ini sangat enak, ya? Apalagi bila kita kilas balik ke zaman dahulu kala; Belum ada mobil, listrik, apalagi internet. Pergi ke luar kota harus berjalan kaki selama berhari-hari, minimal naik kuda. Mau mengirim pesan, butuh waktu yang tidak singkat, bahkan bisa berminggu-minggu.

Sejujurnya, kita harus berterima kasih kepada para inovator yang telah membantu membuat hidup kita jauh lebih baik. Terima kasih kepada Thomas Alva Edison yang telah menemukan lampu listrik. Terima kasih kepada Orville dan Wilbur Wright, tanpa mereka mungkin saat ini kita akan naik Zeppelin, itu pun kalau Ferdinand von Zeppelin ada. Juga kepada para inovator lainnya yang jumlahnya terlalu banyak untuk disebut.

Bukan hanya di luar negeri. Di Indonesia pun, kita bisa menyebut banyak nama yang telah sukses sebagai inovator. Ada nama Tirto Utomo, orang yang pertama kali memproduksi dan menjual air putih dalam kemasan. Ada nama Satya Witoelar, orang yang membangun layanan sosial media pertama di dunia yang berbasis lokasi. Dan masih banyak nama lainnya.

Satu pertanyaan yang perlu kita renungkan, “Bisakah saya menjadi seorang penemu juga?”

Jangan buru-buru berkata “Tidak mungkin.” Karena tak ada yang tidak mungkin selama kita yakin dan mau mencoba.  Anda pun bisa kok, menjadi penemu alias inovator. Caranya:

1. Tekuni hobi dan passion Anda secara serius dan mendalam. Karena hobi tidak hanya mendatangkan kebahagiaan pribadi. Tidak jarang sebuah hobi bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

2. Cari masalah apa yang paling sering dipermasalahkan orang-orang di lingkungan Anda, tapi sampai saat ini belum ada solusinya.

3. Pikirkan dan cari tahu, ide kreatif apa yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah tersebut.

4. Langsung action. Segera wujudkan ide tersebut menjadi sebuah inovasi baru.

Nah, kebetulan saat ini ada sebuah program yang bisa membantu Anda menjadi seorang penemu: DoNetworkID dari Lenovo.

Bila Anda tertarik, coba bentuk tim dari sekarang. Sebab program ini memang mengharuskan seperti itu. Lalu cari dan urun rembug mengenai ide dan proyek inovatif apa yang akan diikutsertakan. Setelah itu, silahkan langsung berpartisipasi dalam DoNetworkID dari Lenovo.

Kabar baiknya adalah, Tim Anda akan dipandu oleh 3 mentor terhandal di Indonesia: Budi Putra (konsultan teknologi), Nurdiansyah (peneliti dan pemerhati pendidikan), dan Onno W Purbo (independent IT writer). Komentar ketiga orang tersebut mengenai program ini bisa dilihat di sini, sini, dan sini.

Pendaftaran dibuka pada 8 Desember 2011 s/d 25 Januari 2012. Sementara Pemilihan peserta favorit dilaksanakan pada 5 s/d 25 Januari 2012. Pemilihan finalis berlangsung pada 26 Januari s/d 29 Februari 2012. Dan, pemenang akan diumumkan pada 1 Maret 2012.

Satu orang bisa mengubah dunia menjadi lebih baik. Namun, dibutuhkan lebih banyak kepala untuk membuat dunia menjadi jauh lebih baik.

Info lebih lanjut mengenai program ini bisa dibaca di laman ini. Siapa tahu, program ini bisa menjadi peluang besar bagi Anda untuk menjadi seorang inovator yang mengubah peradaban dunia menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Ah, iya. Tweeps, jangan lupa untuk dukung program Do Network Indonesia ini dengan Twibbon Do Network Indonesia.

— Adham Somantrie.

Tagged in: lenovo

Menjelang 2012

Posted on 2011-12-31 20:55:21. 350 views.

Menjelang 2012, menutup 2011, mari kita tinjau dan evaluasi 365 hari selama tahun 2011 ini. Bagaimana dengan target yang sudah ditetapkan sebelumnya? Apakah sudah tercapai dalam setahun ini?

Lalu, apa target Anda untuk 2012? Apapun target Anda untuk tahun depan, semoga semuanya bisa tercapai. Amin.

Tagged in: personal

Heart Rate Target Zone Calculator

Posted on 2011-12-21 07:01:34. 442 views.

Sebelumnya saya sudah menuliskan tentang pemantau detak jantung yang bisa digunakan saat berlari. Juga sedikit ulasan mengenai Polar Wearlink+ yang saya gunakan dengan Nike+.

Lalu, apa sebenarnya guna dari memantau detak jantung ini? Tentunya dengan semakin lengkap informasi mengenai olahraga kita, maka kita dapat lebih mengoptimalkan olahraga tersebut. Misalnya untuk mengetahui apakah kita kurang maksimal atau malah terlalu berlebihan?

Nah, detak jantung setiap individu itu unik. Tentunya untuk menganalisa kondisi jantung bukanlah hal yang gampang. Anda mungkin perlu mengunjungi dokter untuk analisa yang akurat. Namun, secara praktis tentunya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai orang awam.

Salah satunya dengan menghitung zona atau rentang detak jantung yang optimal. Apakah untuk sekedar "menggerakkan badan", atau untuk mencapai batas maksimal kemampuan tubuh. Berlari secara "penuh" (all-out) dalam durasi yang cukup lama tentunya tidak baik juga untuk tubuh. Ada rentang tertentu yang mesti dijaga agar lari menjadi optimal, baik itu tujuannya untuk membakar lemak atau memang untuk meningkatkan kinerja.

Saya mencoba membuat aplikasi berbasis web untuk mengkalkulasikan zona detak jantung di alamat berikut, http://adha.ms/apps/heartrate/. Untuk menghitung, ada beberapa informasi yang dibutuhkan: usia, detak jantung saat tidak berolahraga (resting heart rate), dan jenis kelamin. Informasi detak jantung maksimal bersifat tidak wajib (optional). Jika tidak dimasukkan, maka aplikasi akan menghitung detak jantung maksimal Anda berdasarkan usia dan jenis kelamin. Tentu saja, karena setiap individu itu unik, maka akan lebih akurat jika Anda punya data mengenai detak jantung maksimal Anda.

Semoga lari Anda bisa lebih optimal.

— Adham Somantrie

Tagged in: run lari app

Standard-Chartered Singapore Marathon 2011

Posted on 2011-12-11 12:11:32. 464 views.

Sejak pertama kali mulai berlari sebenarnya saya terinspirasi Nike+ Human Race dan bercita-cita untuk berpartisipasi pada Nike+ Human Race 10K di Singapura. Namun, karena tahun 2011 ini tidak ada lagi Nike+ Human Race, maka saya pun berpaling ke Standard-Chartered Singapore Marathon 2011.

Saat mendaftar pada Mei 2011, saya belum pernah menamatkan satu pun lomba lari 10K. Tetapi saya yakin karena masih ada waktu hingga Desember 2011 untuk berlatih. Milo Jakarta 10K 2011 menjadi lomba 10K pertama saya, yang disusul dengan Adidas King of The Road dengan jarak 16.8K. Pencapaian 16.8K ini sebenarnya membuat saya berpikir ulang mengapa saya hanya mengambil kategori 10K untuk SCSM 2011.

SCMS 2011 ini merupakan lomba internasional pertama yang saya ikuti. Karena bukan 10K yang pertama dan bukan jarak terjauh saya, maka saya menetapkan target catatan waktu terbaik pribadi (personal best timing) pada lomba kali ini, 1:10:00. Pencapaian sebelumnya masih berkisar antara 1:16:00 hingga 1:26:00.

Berangkat dari Jakarta pada Sabtu (03/12) dengan penerbangan jam 7 pagi. Saat proses imigrasi, bertemu dengan Mas Didiet plus Mbak Tutik dan juga Mas Rustaman yang ternyata mereka satu penerbangan dengan saya. Setibanya di Changi, ternyata ada Mas Anton juga yang sudah tiba terlebih dahulu dengan penerbangan yang berbeda. Dengan MRT kami berlima pun menuju tempat pengambilan paket lomba (race pack). Walaupun sedikit nyasar, akhirnya kami pun tiba di Marina Bay Sands Expo. Selain nomor dada (bib) yang dilengkapi dengan RFID, juga ada singlet Asics seragam resmi lomba dan beberapa merchandise dari sponsor.

Adidas ClimaCool Ride yang belum genap berusia seminggu menjadi andalan untuk menyentuh aspal jalanan Singapura dalam lomba kali ini. Untungnya sepatu ini sudah saya ujicoba terlebih dahulu, sehingga saya pun sudah mempersiapkan Hansaplast untuk mengakali kaki lecet dan melepuh (blistered).

Berangkat dari penginapan sekitar pukul 05.30 SGT, saya mendapati isi MRT adalah para pelari SCSM 2011. Saya pun bertemu dengan Mia di stasiun Dhoby Ghaut yang kebetulan sama-sama mengambil kategori 10K sehingga bisa bersama-sama saat menitipkan tas dan menuju garis start di Esplanade Bridge.

Bersama Oki, Bertha, Mia, Gede, Rico kami berhasil mendapat posisi start di depan. Walaupun ternyata posisi terdepan diisi oleh kalangan terbatas (VIP). Tentu saja, start terdepan tidak berarti finish terdepan. Tercatat 12.047 peserta untuk kategori 10K. Ternyata start dilakukan dalam beberapa tahap (batch). Beruntung kami start di tahap pertama pada 07.15 SGT, selain selisih waktu antara chip time dan gun time yang tipis, juga cuaca sejuk karena relatif masih pagi.

Dengan target 70 menit untuk 10 km, tentu saya dapat dengan gampang mengukur kecepatan lari: 7 menit per km. Hanya sayangnya, karena sedikit kecerobohan, armband miCoach tertinggal di Jakarta sehingga saya tidak bisa membawa serta iPhone untuk berlari. Artinya, tidak ada musik dalam lari kali ini. "Run without tunes" kata Rian sembari menertawakan keteledoran saya. Tanpa iPhone saya juga tidak bisa melacak rute lari saya menggunakan GPS.

Berlari bersama dengan ribuan pelari, tentunya akan membuat adrenalin meningkat. Konsekuensinya ada 2: semakin terpacu untuk kencang; dan, detak jantung menjadi lebih cepat, yang membuat kita lebih cepat letih. Namun sorakan semangat (cheers) dari para sukarelawan yang kebanyakan adalah gadis belia tentunya benar-benar membangun semangat. Belum lagi Rian yang saat itu menjadi coach dadakan yang terus memaksa saya untuk terus berlari mengejar catatan waktu terbaik.

Alhasil, menjelang garis finish, tampak jam digital Seiko besar yang menunjukkan waktu saya tinggal beberapa detik saja untuk mengejar target. Alhamdulillah, saya berhasil melintasi garis finish dengan catatan waktu 1:09:59. Satu detik lebih cepat dari target. Waktu bersih (chip time) tentunya lebih cepat, walaupun hanya berbeda 2 detik saja. Tidak sia-sia saya sudah mengeluarkan biaya dan datang jauh-jauh, semua terbayarkan ketika berhasil memecahkan rekor pribadi dan tentunya meraih medali penamat (finisher medal).

Sedikit kabar buruk adalah mengenai area acara di The Padang yang becek karena hujan yang menyirami Singapura malam sebelumnya. Tak ayal, sepatu yang baru saja menyelesaikan lomba pertamanya dipaksa bermain dengan lumpur demi menghampiri tenda pengambilan medali dan konsumsi. Yuck! Urusan mencuci sepatu sesampainya di Jakarta memang menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.

Lomba yang disusun serta diatur dengan apik dan juga eksekusi yang baik memang memberikan pengalaman yang mengesankan bagi partisipan. Dengan dukungan sponsor dan juga pemerintah, lomba pun berjalan lancar. Lebih dari setengah hari, sebagian jalanan di Singapura ditutup untuk penyelenggaraan lomba lari ini. Bahkan MRT beroperasi di luar jam normal khusus untuk lomba ini. Ah, kapan di Indonesia bisa seperti ini? Oktober kemarin saja lomba lari Standard-Chartered Indonesia Half-Marathon yang diadakan di Ragunan pesertanya hanya ratusan orang saja untuk kategori 21K dan 10K. Sementara SCSM 2011 tercatat sekitar 65.000 peserta untuk keseluruhan kategori, termasuk kid dash.

Saya kembali ke Jakarta pada keesokan harinya, penerbangan pada Senin (15/12) siang yang sudah disamakan dengan Mbak Nitta plus Bang Edo. Tapi ternyata, Mia dan Allan pun menggunakan penerbangan yang sama. Pun, lagi-lagi Mas Didiet dan Mbak Tutik. Ditambah lagi, Mas Heru dan beberapa rekan dari SCB juga bergabung di penerbangan yang sama! Kabin pesawat siang itu pun ramai dengan para peserta SCSM 2011.

Sampai jumpa di BII Maybank Bali Marathon, April 2012 mendatang!

— Adham Somantrie.

Tagged in: lari run singapore

Site Search

Loading...

Ads

short url service Edward Forrer 30% Off Discount Wadezig! Internet Sehat

Nike+